Katekese Umat
Katekese Umat
Oleh Maria Elpina Padang
Oleh Maria Elpina Padang
Tema Umum : Komunikasi Harmonis
Orang Tua dengan Anak
Tema : Hubungan Antara Anggota-anggota
Rumah Tangga
Tujuan : 1. Agar peserta saling
menghormati seisi rumah-nya.
2. Agar peserta menunjukkan sikap dan tindakana rasa peduli terhadap sesama anggota keluarga-nya.
2. Agar peserta menunjukkan sikap dan tindakana rasa peduli terhadap sesama anggota keluarga-nya.
Pemikiran Dasar :
Banyak
pengalaman menarik yang setiap saat dijumpai dalam kehidupan keluarga seperti
ikatan kerja sama, saling mendukung dan menghormati di antara anggota keluarga.
Hal itu dilakukan orang tua untuk mencapai tujuan berkeluarga, diantarnya bisa
membesarkan anak yang bahagia., mudah beradaptasi, dan berperilaku baik. Dalam
membesarkan anak, misalnya tidak hanya menjadi tanggung jawab seorang ibu,
tetapi juga keutamaan ayah sebagai mitra sejati.
Ayah
dan ibu sebagai orang tua diharapkan menjadi sebuah tim yang dapat menciptakan
keluarga sehat secara emosional, di mana setiap anggota-nya saling menyayangi,
bertanggung jawab, dan berhasil membawa melalui pengalaman, kasih sayang,
terciptanya kehidupan keluarga yang positif, dan sebagainya. Untuk memperoleh
kebahagian tersebut, antara lain, bergantung pada keharmonisan komunikasi
antara anggota keluarga: ayah,ibu, dan anak. Namun, hampir semua orang tua
beranggapan bahwa mencapai keberhasilan dan kebahagian adalah tujuan yang sulit
dicapai. Misalnya, meskipun suami istri memiliki
rasa saling mendukung dalam komunikasi dengan anggota keluarganya.
Salah
satu masalah yang dihadapi orang tua masa kini dalam berkomunikasi dengan anak,
khususnya anak remaja adalah bagaimana menumbuhkan sikap anak patuh mengikuti
nasihat orang tuanya untuk mewujudkan potensi dirinya secara maksimal. Satu hal
yang sulit ditentukan pada anak-anak di zaman sekarang. Kondisi ini terjadi
bisa karena perbedaan pandangan orang tua dengan anak yang sering kali
menimbulkan sikap “pertentangan”, bobot pelajaran yang berat menyebabkan waktu
bermain anak terbatas, orang tua sibuk bekerja, sehingga waktu bertemu dengan
anak sangat sedikit, anak kurang diberi kesempatan untuk menyatakan gagasan dan
pendapatnya bila terjadi suatu masalah. Bahkan, sebagai orang tua ada kalanya
mengabaikan perasaan dalam berkomunikasi dengan anak. Padahal sebagai manusia,
“Anak-anak berhak dihormati, seperti kita ingin dihormati orang lain”.
Belum
lagi pengaruh nilai-nilai buruk yang diserap anak dari media, terutama televisi
yang luput dari penyaringan orang tua. Seperti orientasi nilai-nilai
keberhasilan secara instan. Akibatnya, orang tua panik ketika mendapati anaknya
tidak memiliki motivasi untuk berprestasi di sekolah. Anak-anak melihat, dan
cenderung meniru cara berkomunikasi orang tua dalam keluarga. Sejauh mana orang
tua merupakan aturan-aturan yang dianut dalam keluarga, misalnya, bagaimana
memaknai nilai kerja keras, disiplin, jujur, tanggung jawab, dan sebagainya.
Hal itu terwujud bila orang tua memiliki komitmen tinggi, dan secara konsisten
mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam berkomunikasi dalam keluarganya.
Sebagai
contoh, bagaimana keluarga mendukung keberhasilan anak dalam belajar, “bisa
bercermin pada Ananda Sukarlan sebagai seorang pianis muda Indonesia yang telah
mendunia, memiliki pribadi yang berhasil melihat jati diri dan menemukan
perananya dalam kehidupan secara jelas dan mantap. Ia mengatakan, “menulis
karya buat saya adalah suatu tanggung jawab moral. Tekadnya adalah memajukan
musik sastra Indonesia yang jauh tertinggal. Keberhasilannya merupakan
perjuangan, kerja kers, dan disiplin yang berhasil ditanamkan keluarga, guru,
dan dosenya.
Uraian
berikutnya, anak tidak hanya belajar bagaimana mengatur perilaku dan emosi
mereka, tetapi juga bagaimana mengatur kesehatan, rumah tangga, keuangan, dan
waktu mereka. Bila orang tua menjaga kesehatan baik-baik, tidur cukup, makan
dengan baik, berolah raga secara teratur, dan menerapakan pola makan yang
sehat, maka anak-anak akan belajar dan menganggap semua kebiasaan yang baik itu
sebagai bagian dari hidup. Dengan demikian, anak akan meniru perilaku baik yang
dicontohkan orang tua.
Di
sisi lain, anak juga dapat meniru perilaku buruk orang tuanya. Apabila terjadi
demikian, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah orang tua dapat saling
mendukung dan mengoreksi kebiasaan-kebiasaan buruk anggota keluarga dengan cara
lemah lembut tanpa bersikap menghakimi. Bagaimana orang tua saling berinteraksi
akan menjadi contoh bagi hubungan orang tua dengan anak, dan menjadi contoh
yang akan diingat anak saat mereka menghadapi kesulitan.
Ada
tiga pokok dari kesimpulan komunikasi harmonis orang tua dengan anak :
1. Orang
tua perlu memiliki komitmen tinggi dan secara konsisten mengaplikasikan
nilai-nilai yang dianut keluarga dalam membimbing anaknya. Hal itu dapat
terwujud bila orang tua terus meningkatkan kredibilitasnya dengan menambah
pengetahuan dan kemampuannya dalam membimbing anak.
2. Orang
tua perlu melatih kemampuan komunikasi non verbal mereka. Memberikan sentuhan
penuh kasih sayang kepada anak, karena curahan kasih sayang menjadi kekuatan
bagi orang tua dan anak untuk saling menyesuaikan diri.
3. Mendengarkan
secara aktif yang dilakukan orang tua berhubungan dengan mengulangi pemikiran
anak dengan cara menyatakanya melalui kata-katanya sendiri, menyatakan
pengertian terhadap perasaan anak dengan memberikan kesempatan kepadanya
melihat perasaanya secara lebih objektif, dan mengajukan pertanyaan untuk
memastikan pemahaman orang tua terhadap pikiran dan perasaan anak untuk
mendapatkan informasi tambahan.
Sumber
:
Alkitab dan Cerita
A.
Pelaksanaan Pertemuan
1.
Pembuka
a.
Sapaan awal
Fasilitator mulai menyapa peserta dalam sapaan pembuka.
Fasilitator mulai menyapa peserta dalam sapaan pembuka.
Haai, Selamat Pagi
Apa kabar semua-nya ?...
Bagaimana kondisi kesehatan saat ini ?
Pagi yang cerah kita harus tetap menjaga kesehatan kita dan tetap semangat dalam menjalani hidup kita dari sekarang maupun sampai selesai. Kawan-kawan yang masih tidak peduli dengan keadaan yangg telah terjadi di lingkungan sekitar kita akan orang-orang yang memiliki keterbatasan, kemiskinan, kekerasan, dan sampai ketidakadilan. Ketidak pedulian yang tercipta dalam unsur sengaja dan tidak sengaja dapat banyak kita jumpai dimana pun. Maka lewat masalah yang sering kita jumpai harus melihat orang-orang disekitar kita untuk tidak pernah lupa dan buat peduli akan kebersamaan kita sebagai makhluk paling indah di ciptakan Allah.
Apa kabar semua-nya ?...
Bagaimana kondisi kesehatan saat ini ?
Pagi yang cerah kita harus tetap menjaga kesehatan kita dan tetap semangat dalam menjalani hidup kita dari sekarang maupun sampai selesai. Kawan-kawan yang masih tidak peduli dengan keadaan yangg telah terjadi di lingkungan sekitar kita akan orang-orang yang memiliki keterbatasan, kemiskinan, kekerasan, dan sampai ketidakadilan. Ketidak pedulian yang tercipta dalam unsur sengaja dan tidak sengaja dapat banyak kita jumpai dimana pun. Maka lewat masalah yang sering kita jumpai harus melihat orang-orang disekitar kita untuk tidak pernah lupa dan buat peduli akan kebersamaan kita sebagai makhluk paling indah di ciptakan Allah.
b.
Lagu Pembuka
Fasilitator mengajak
peserta dalam bernyanyi bersama dalam lagu pembukaan.
Cinta Untuk Mama
Apa yang ku berikan untuk mama
untuk mama tersayang
tak ku miliki sesuatu berharga
untuk mama tercinta
Apa yang ku berikan untuk mama
untuk mama tersayang
tak ku miliki sesuatu berharga
untuk mama tercinta
Reef :
Hanya ini kunyanyikan
senandung dari hatiku untuk mama
hanya sebuah lagu sederhana
lagu cintaku untuk mama
Hanya ini kunyanyikan
senandung dari hatiku untuk mama
hanya sebuah lagu sederhana
lagu cintaku untuk mama
Walau
tak dapat selalu ku ungkapkan
kata cintaku tuk mama
namun dengarkanlah hatiku berkata
sungguh ku sayang padamu mama
kata cintaku tuk mama
namun dengarkanlah hatiku berkata
sungguh ku sayang padamu mama
Kembali ke reff
c.
Doa Pembuka
Fasilitator mengajak salah satu peserta untuk memulai kegiatan katekese untuk membawakan doa pembuka.
Fasilitator mengajak salah satu peserta untuk memulai kegiatan katekese untuk membawakan doa pembuka.
Ya
Allah yang Mahakasih, kami bersyukur atas rakmat dan karunia yang engkau
limpahkan terhadap kami dan keluarga kami. Engkau menghendaki kami membangun
keluarga atas dasar cinta kasih dan menghidupinya dengan kasih pula. Namun
betapa sering kami berbuat lain dari yang engkau kehendaki. Banyak keluarga
yang harmonis dan merasakan kebahagiaan dengan anak-anak-nya. Melalui
komunikasi yang baik kami mampu menciptakan suasana yang harmonis dan saling
menyayangi satu dengan yang lain. Bantulah kami untuk menyadarinya dan berusaha
mengambil sikap dan tindakan yang tepat menghadapi komunikasi yang berkurang
diantara setiap anggota tersebut. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.
2. Menyadari
Fakta Ketidakpedulian Di Sekitar Kita.
Fasilitator mengajak peserta untuk menyimak cerita yang sudah di
siapkan untuk dapat memahami cerita tersebut.
Kasus Alan
Rinto,
pria 57 tahun yang beralamat di Jalan Purwosari Ujung Perumahan Andika Berkah
Desa Pandau Jaya Kecamatan Siak Hulu, seorang Buruh harian yang bekerja dengan
adanya permintaan orang-orang yang tinggal disekitar rumahnya. Rinto tersebut
selalu melakukan tindakan yang buat istri dan anak-anaknya kesal dan jenuh atas
sikap ayah-nya tersebut.
Hampir
tiap hari pulang malam dan selalu mabuk. Istri dan anak-anak-nya tidak
memperdulikan dirinya lagi. Kemudian sewaktu anak laki-laki pertama dan
istri-nya mencari botol aqua dan barang-barang berkas dari satu tepat komplek
perumahan ke komplek perumahan berikutnya sampai larut malam. Sesampainya,
dirumah istrinya mengurus anak yang 3 orang lagi yang masih di tingkat sekolah
dasar.
Pada jam 02:00 dini hari suara keras terdengar
dari salah satu rumah yang beada di perumahan tersebut. Kembali, Rinto datang
ke rumah dengan keadaan yang diluar batas kebiasaan mabuk-nya yang kelewatan
kasarnya. Setelah berkumpul di kedai dengan warga lain-nya dan minum-minuman
keras dia pulang kerumah dan membantai istri-nya dan ke 4 anak-anak-nya. Anak
pertama laki-laki-nya tak sanggup melihat ibu-nya dipukuli sampai bercucuran
darah depan mata-nya, ia melindungi adik-adik perempuan ya dan tanpa sadar ia
mengambil benda tajam dan membacok ayah-nya sendiri dan tanpa sadar sampai
ayah-nya tewas di tempat tersebut.
Ketika
ditelusuri, ternyata Rinto bukan hanya sekali ini berbuat kasar terhadap
istri-nya dan anak-anak-nya. Tetangga yang di sekitar lingkungan rumah-nya
sering mendengar suara teriak-teriak tiap malam-nya dari rumah tersebut. Pokok persoalannya
adalah Rinto yang kurang bercengkrama dengan istri dan anak-anaknya dan tidak
memiliki pekerjaan yang tetap dan ingin hidup enak tanpa bekerja dan selalu
mengantungkan diri terhadap anak dan istri-nya dengan mencari barang-barang
bekas.
Fasilitator sehabis
membacakan cerita tersebut ia menampilkan gambar di layar LCD bahwa Rinto dalam
keadaan yang mengenaskan di rumah mereka tersebut.
a. Pendalaman Cerita
Setelah membacakan cerita di atas, fasilitator mengajak peserta
untuk mendalami dan menemukan makna dari cerita tersebut, dengan bantuan
pertanyaan-pertanyaan berikut :
a. Bagaimana komentar saudara-saudari atas kasus
ini ?
b. Dalam kasus ini, siapa yang menindas dan
siapa yang ditindas ?
c. Apa yang mesti dilakukan bila kasus serupa
terjadi dalam keluarga kita ?
d. Tindakan apa yang harus kita tunjukan kepada
si penindas dan yang tertindas ?
Lewat cerita dan
pertanyaan yang di lontarkan oleh fasilitator, maka peserta boleh menjawab
dengan spontan dan akan ditunjuk salah satu dari peserta tersebut. Dari salah
satu peserta mampu menyimpulkan atas pendalaman cerita tersebut.
b. Rangkuman
Pelaku yang menjadi tindak kriminal yang di
lakukan oleh seorang Rinto terhadap istri dan anak-anak-nya, hal ini barangkali
mengambarkan bahwa kekerasan yang menimbulkan exkomunikasi yang sangat fatal
yang terjadi di antara anggota keluarga. Bentuk kekerasan yang dilakukan adalah
kekerasan yang dilakukan adalah kekerasan fisik berupa pemukulan dan bahkan
pembacokan, yang mengakibatkan penderitaan fisik.
Selain itu secara psikologis berupa penghinaan,
kata-kata ancaman, berbagai bentuk larangan ini dan itu, yang semuanya merampas
hak seseorang, dan berakibat buruk seperti : merasa tertekan, tidak percaya
diri, susah tidur, dsbnya. Dalam konteks iman, tindakan kekerasan tersebut
termasuk tindakan merendahkan antara anggota keluarga tersebut. Lewat
komunikasi yang kurang harmonis dan begitu banyak aspek yang kurang menjadikan
penyebab tindakan-tindakan yang tidak di inginkan.
Komunikasi yang harmonis dimulai dari kedua
orang tua yang menunjukkan kebersamaan-nya di depan anak-anak-nya. Anak-anak
yang melihat orang tua dengan bersifat baik di hadapan mereka dan dapat langsung meniru sifat yang
ditunjukkan orang tua-nya kepada semua orang. Perintah dan perkataan orang tua
akana didengarkan lewat memberikan kebebasan dan tanggung jawab yang di bangun
dari satu keluarga tersebut.
3.
Melihat
Realitas Ketidakpedulian Dalam Terang Kitab Suci
Fasilitator mengajak
peserta KU untuk melihat dan menyadari kenyataan komukasi harmonis orang tua
dengan anak-anaknya dalam kasus dan Kitab Suci. Fasilitator memilih salah satu
peserta untuk membacakan Kitab Suci di hadapan peserta lainya.
a. Membaca
Kitab Suci : Surat Paulus Kepada Jemaat di Kolose 3:18-25, 4:1-6. “Hubungan
Antara anggota-anggota keluarga”
Fasilitator mengajak
peserta buat mendalami bacaan di atas dengan bantuan pertanyaan yang akan
dilontarkan terhadap peserta berikut ini :
1.
Apa
kesan atau komentar saudara-saudari terhadap hubungan antara anggota keluarga
tersebut ?
2.
Apakah
hal yang kita dengar dari bacaan tadi serupa yang kita laksanakan dalam
kehidupan sehari-hari ?
3.
Apa
pesan yang dapat kita petik dari hubungan antara anggota keluarga tersebut ?
Pertanyaan yang dilontarkan fasilitator kepada peserta akan di jawab
dengan cara bermain pesan berantai dengan cara sebagai berikut :
1. Setiap peserta di bagi menjadi 6 kelompok dan
dimulai dengan cara fasilitator menunjuk satu per satu kelompok.
2. Setelah mempunyai kelompok mereka di barisan
dengan baris memanjang ke belakang per kelompok-nya.
3. Peserta yang duduk paling belakang akan
menjadi ketua setiap kelompok-nya.
4. Setelah itu fasilitator akan memberikan pesan
kepada setiap kelompok demi mengetahui apa sebenarnya kesimpulan dari bacaan
yang telah di dengarkan tadi.
5. Selanjutnya permainan akan dimulai dari
hitungan ke-3 dari fasilitator yang menentukan waktu tersebut.
6. Maka ketua yang sudah menghafal kesimpulan
dari bacaan tersebut mulai membisikan pesan ke semua anggota-nya tanpa
terdengar ke anggota lainya.
7. Setelah pesan sampai ke peserta yang duduk di
depan, maka fasilitator meminta peserta tersebut menyampaikan apa sebernarnya
pesan yang di sampaikan oleh bacaan tersebut.
8. Jika pesan yang di sampaikan tidak sempurna
maka kelompok tersebut yang akan kalah dan mendapat kesempatan untuk membawakan
lagu yang sudah di siapkan oleh fasilitator tersebut.
9. Mereka yang kalah akan membawakan lagu “
Setelah permainan selasai dan fasilitator akan mengulang kembali
poin-poin pokok dari tema yang di bahas.
4. Mencari
Dampak Untuk Hidup
Pada langkah ini, fasilitator mengajak fasilitator untuk bersama-sama
membicarakan apa yang mereka petik dari kisah Alan dan kisah Kitab Suci tadi.
Beberapa hal yang kiranya perlu ditegaskan lagi :
a. Keluarga dibangun atas dasar cinta. Maka
cinta dan kasih itu mesti terus disirami dan tumbuh kembangkan dalam hidup
keluarga.
b. Komunikasi harmonis membuat kita saling tau
dan mengerti akan keadaan dan kondisi para anggota keluarga untuk menciptakan
kerukunan dalam keluarga.
5. Penutup
Fasilitator menyampaikan kata penutup.
Terima kasih atas partisipasi peserta dalam tema “Komunikasi Harmonis
Orang Tua dengan Anak” sungguh sangat bermakna untuk saling tetap berkomunikasi
dengan setiap anggota keluarga agar terjalin-nya keluarga yang rukun dan damai.
Fasilitator mengajak peserta untuk bernyanyi.
Lagu Penutup
Harta Berharga
Harta yang berharga
adalah Keluarga
Istana yang paling indah
adalah Keluarga
Harta yang berharga
adalah Keluarga
Istana yang paling indah
adalah Keluarga
Puisi yang paling bermakna
adalah Keluarga
Mutiara tiada tara
adalah Keluarga
adalah Keluarga
Mutiara tiada tara
adalah Keluarga
Reff:
Selamat Pagi Emak
Selamat Pagi Abah
Mentari hari ini
Berseri indah
Selamat Pagi Abah
Mentari hari ini
Berseri indah
Terima Kasih Emak
Terima Kasih Abah
untuk tampil perkasa
bagi kami putra putri
yang siap berbakti
Terima Kasih Abah
untuk tampil perkasa
bagi kami putra putri
yang siap berbakti
Fasilitator
mengajak peserta untuk doa penutup di akhir kegiatan.
Doa Penutup
Allah yang Maha rahim kami bersyukur atas rahmat yang engkau berikan
kepada setiap keluarga kami yang kami sayangi. Engkau selalu memberikan
komunikasi yang harmonis antara kami orang tua dan anak-anak kami, Engkau
menunjukkan kedamaian untuk keluarga kami dan selalu setia mengikuti jalan-Mu,
Dengan Pengantara Yesus Kristus bersama Roh Kudus kini dan sepanjang segala masa.
Amin
Komentar
Posting Komentar