Kegelisahan Jiwa
Hujan yang kata orang tua itu sebagai berkat.
Pukul 08:52 WIB masih dalam keadaan rindu untuk untuk menanggung beban pagi ini. Aku selalu menunggu kapan aku dipanggil dengan sebutan "Dang" yang terucap dari mulutnya. Hujan aku tau dia baik kepada siapa pun yang telah diciptakan Tuhan. Hujan aku selalu berharap akan kerinduan yang melanda diriku beserta orang-orang yang telah ku kecewakan. Apa mungkin kerinduan ku itu akan dibalas dengan keterpurukan yang selama ini disembunyikan oleh senyuman yang tak punya malu sama sekali.
Hujan aku selalu memikirkan hal-hal yang tak dapat untuk ku perbuat dan tak dapat ku jangkau, sampai dimana aku takut untuk melihat setiap orang-orang yang selalu mendukungku hanya karna kenikmatan duniawi. Terkadang istilah dari "Siang Tertawa, Malam Menagis" itu benar. Hujan tak pernah salah kapan pun itu karna dia sumber kehidupan, aku malu untuk melihat dia setiap kali dia datang dan menampakkan diri-nya di hadapan semua mahkluk.
Aku mengenal-nya dari aku tidak punya siapa-siapa di tanah yang berbeda ini, sampai aku selalu dan setiap detik bersama dia. Jalan, makan, mandi, berbicara, sampai hal duniawi aku mengenal diri-nya. Hujan itu selalu baik dan tersenyum dan seakan memunculkan pelangi yang cerah walau kadang dia mendatangkan awan hitam. Hujan itu selalu care dengan setiap orang yang ingin memegang-nya sampai aku yang berpikir untuk mempersatukan Hujan dengan Awan Hitam tetapi yang terjadi kedatangan ku yang merusak keadaan yang semakin buruk.
Aku yang berharap mereka untuk semakin membaik dengan satu ke yang lainya, malah makin rusak hanya dengan sekali perasaan yang menguasai kebaikan yang selama ini yang terbangun untuk kebersamaan selama ini yang aku rasakan.
Hujan dan awan hitam selalu pergi dan semakin jauh tampak henti. membayangkan mereka yang tak pernah akur lagi aku semakin menikmati hal duniawi dan menambah bumerang dengan badai dengan tak ada yang menggangu akan mengamuk jika dibangun dan diciptakan untuk bangun dari kemurkaan-nya. Ujung-nya badai itu datang dan ikut melenyapkan aku dan tak hanya sekali bahkan sesekali kesedihan itu datang sampai dimana aku selalu takut untuk melihat diri-nya kapan pun dan dimana pun.
Hujan apakah aku begitu jahat dan tak punya harga diri untuk tetap berjalan seperti dulu lagi, kenapa hanya hal seperti ini dapat menghancrkan semua orang sampai aku benar-benar jatuh sampai saat ini. Perasaan yang bergumul dengan kenikmatan duniawi dapat membuat semua hal itu tak terhindarkan. Begitu banyak jawaban yang ku butuhkan sampai aku takut untuk mendengar jawaban itu semua, sempat aku berpikir untuk mengatakan "SUDAHLAH" tetapi akan tak membayangkan apa yang akan terjadi sampai saat ini.
Hujan apakah ini yang dinamakan perubahan???
atau ini yang nama-nya siklus kehidupan yang harus dilalui oleh setiap mahkluk hidup yang lain. Tuhan adakah tepat untuk aku bersandar dan menutup muka ku yang selalu tertutup untuk tidak mendengar "AKU TAK PEDULI LAGI DENGAN DIA!".
Komentar
Posting Komentar